“Berdalil dengan Hadits Maudhu' dan Dho’if dalam Permasalahan Aqidah”


Pembahasan tentang akhir zaman memang tidak akan ada habisnya, yg membuat para audien seakan-akan hadir dalam pembahasan tersebut, terlebih pematerinya menguraikan drama bak komik2 marvel, bahkan asal ada dalil akan mereka keluarkan tak peduli itu palsu atau dho’if bagi mereka yg penting ada dalilnya, kemudian didukung dengan data science kekinian dengan dibingkai metode cocoklogi maka keluarlah pemahaman-pemahaman aneh tentang Hadits Nabi j  dan terkadang berdusta atas nama Nabi. akan tetapi akan senantiasa akan ada segolongan kelompok membantah pemahaman sesat yg mereka suguhkan kepada kaum Muslimin sebagaimana sabda beliau j  

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله، ينفون عنه تحريف الغالين، و انتحال المبطلين، و تأويل الجاهلين

Ilmu ini akan dipikul orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka menolak tahrif (penyimpangan)orang yang melampaui batas, menolak kedustaan ahli kebatilan dan ta’wil orang-orang bodoh.[1]

sedangkan metode ahlus sunnah tidaklah demikian sebagaimana ucapan syaikh Sholeh bin Abdul Aziz alu assyaikh:

 “ Jangan mencocok-cocokan -wahai kaum muslimin- hadits-hadits tentang fitnah dengan kejadian sekarang dimana kalian hidup pada saat ini, dan itu disukai manusia Ketika munculnya suatu fitnah kemudian mereka menghubung-hubungkan kepada hadits-hadits Nabi j  saat fitnah, dan kebanyakkan ucapan mereka majlis : Nabi j  bersabda begini, inilah saatnya, inilah fitnah tersebut dan berbagai macam hal mereka cocok-cocokkan”.[2]

Para imampun telah memperingatkan orang seperti ini dizaman mereka sebagaimana ucapan Ibnu Qutaibah, beliau berkata :

 “Sesungguhnya mereka menjadikan pandangan orang awam condong kepada mereka, yang menimbulkan apa yang ada pada mereka dengan suatu kebencian, keanehan dan kedustaan bagian dari hadits-hadits. Dan diantara keadaan awam mereka yang duduk dengan tukang cerita ini, apa yang dianggapnya ajaib dan menabjubkan yang keluar dari fitrah yg lurus, atau ucapan yg menyentuh hati dan membuat mata meneteskan air”.[3]

Dan merekapun menjadikan mata pencarian dengan bualan-bualan mereka dengan membuat kampung akhir zaman, yang ujung-ujungnya bermuara kepada fulus dan sebagainya, Ibnu Taymiyyah telah menyebutkan karakter orang-orang ini, sebagaimana nukilan berikut ini

“Dan kebanyakkan dari mereka mangambil pekerjaan sebagai tukang cerita(al-Qushosh) dan hidup dengannya, dan tidak ada rasa takut kepada Allah dia bersemangat menyampaikannya kepada mereka, dan diantaranya telah menjadi wasilah untuk memperoleh penghasilan dan rezki di belakangnya, dan karena itu dia melihat bersegera dalam mengharap keridhoan manusia, dan dia(tukang cerita)  menginginkan atas keridhoan dan kegembiraan mereka dan tidak berkeinginan atas kelurusan dan terdidiknya mereka(orang awam), dan ingin mereka awam selamanya, dan disetiap zaman, mereka senang dengan suatu yang aneh, yang membuat mereka takjub dengan kurafat, dan mereka bersenang-senang dengan suatu yang menabjubkan….”[4]

Disebutkan assuyuthi : telah di gambarkan oleh Ibnul Jauziy di judul akhir kitabnya bahwasanya bala terbesar pada hadits-hadits palsu yang disampaikan para tukang cerita, dikarenakan mereka menginginkan sesuatu yang disenangi jiwa, dan bersenang senang dengan khayalan, dan memainkan pikiran,…..[5]

Dan mereka rame-rame membahas hadits akan terjadinya hantaman meteor di pertengahan romadhon seperti ZMA, RB mereka inilah yang paling getol membahas hadits tersebut, akan tetapi setelah ada bantahan-bantahan mereka terima akhirnya merekapun mengklarifikasi bahwasanya ramalan-ramalan mereka meleset, daripada malu banyak mendingan bikin klarifikasi agar tak malu-maluin seperti yang dilakukan pakar akhir zaman ZMA (katanya), sementara  RB belum kami dapati klarifikasinya tentang keteledorannya membawakan hadits-hadit palsu tersebut, akan tetapi RB ini masih meyakini akan hal tersebut akan terjadi, dengan mencocok-cocokkan dengan hadits-hadits lain, berikut hadits yang sering mereka bawakan dalam lawakkan mereka : 

حدثنا  ابو عمر، عن ابن لهيعة، قال : حدثني عبد الوهاب بن حسين، عن محمد بن ثابت البناني، عن ابيه، عن الحارث الهمداني عن ابن مسعود رضى الله...عن النبي صلى الله عليه و سلام قال : (( إذ كانت صيحة في رمضان فإنه يكون معمعة في شوال، وتمييز القبائل في ذى القعدة، وتسفك الدماء في ذى الحجة والمحرم )). يقولها ثلاتا، (( هيهات هيهات، يقتل الناس فيها هرجا هرجا )). قال: قلنا : وما الصيحتة يارسول الله؟ قال : (( هدة في النصف من رمضان ليلة جمعة، فتكون هدة توقظ النائم، تقعد القائم، تخرج العواتق من خدورهن، في ليلة جمعة، في سنة كثيرة الزلازل، فإذ صليتم الفجر من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكم، ودثروا أنفسكم، وسدوا آذنكم، فإذا حسستم  بالصيحة فخروا لله سجدا، وقولوا : سبحان القدوس سبحان القدوس، ربنا القدوس، فإن من فعل ذلك نجا، ومن لم يفعل ذلك هلك)).

telah mengabarkan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahiyyah[7] beliau berkata : telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabitin al-Bunaniy[8], dari Bapaknya dari al-Haris al-Hamdaniy[9] dari Ibnu Mas’ud h dari Nabi j beliau bersabda : 

 ( jika terdengar teriakan di bulan romadhon maka akan terjadi kekacauan di bulan syawal, terjadi perselisihan antara kabilah di bulan dzulqo’dah, dan pertumpahan darah di bulan dzulhijjah dan Muharram, dan apa yg terjadi di bulan muharram) ucapan tersebut di ulang sebanyak tiga kali (celakalah,celakalah, terbunuhnya manusia disana saat pembunuhan,pembunuhan). Ucapan beliau : kami bertanya : apa yg disebut dentuman tersebut wahai Rosul Allah? Beliau bersabda : ( suara suatu benda jatuh dipertengahan romadhon dimalam Jum’at, pada saat terjadinya yg membangunkan orang yang tidur, yg membuat orang yg duduk berdiri, membuat keluarnya wanita merdeka dari tempat pemingitannya di malam jum’at, dan ditahun itu banyak terjadi gempa, jika kalian telah selesai sholat fajar di hari jumat maka masuklah ke rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu kalian, tetaplah dirumah kalian, tahanlah jiwa-jiwa kalian, tutuplah telinga kalian, dan jika kalian merasakan suara tersebut bersujudlah kepada Allah dan ucapkanlah : “subhanal Quddus, subhaanal Quddus, Robbunal Quddus”, barangsiapa yang mengamalkan hal tersebut maka akan selamat, dan siapa yg tidak mengamalkan maka akan celaka).[10]

حديث ابن مسعود . -  ( يَكُونُ فِي رَمَضَانَ صَوْتٌ , قَالُوا: فِي أَوَّلِهِ أَو فِي وَسَطِهِ أَو فِي آخِرِهِ؟ قَالَ : لا ؛ بَلْ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ ، إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ؛ يَكُونُ صَوْتٌ مِنَ السَّمَاءِ يُصْعَقُ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُخْرَسُ سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُعْمَى سَبْعُونَ أَلْفاً ، وَيُصِمُّ سَبْعُونَ أَلْفاً . قَالُوا: فَمَنِ السَّالِمُ مِنْ أُمَّتِكَ؟ قَالَ : مَنْ لَزِمَ بَيْتَهُ ، وَتَعَوَّذَ بِالسُّجُودِ ، وَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ لِلَّهِ . ثُمَّ يَتْبَعُهُ صَوْتٌ آخَرُ . وَالصَّوْتُ الأَوَّلُ صَوْتُ جِبْرِيلَ ، وَالثَّانِي صَوْتُ الشَّيْطَانِ. فَالصَّوْتُ فِي رَمَضَانَ ، وَالمَعْمَعَةُ فِي شَوَّالٍ ، وَتُمَيَّزُ الْقَبَائِلُ فِي ذِي الْقَعْدَةِ ، وَيُغَارُ عَلَى الْحُجَّاجِ فِي ذِي الْحِجَّةِ ، وَفِي الْمُحْرِمِ ، وَمَا الْمُحْرَّمُ؟ أَوَّلُهُ بَلاءٌ عَلَى أُمَّتِي ، وَآخِرُهُ فَرَحٌ لأُمَّتِي ، الرَّاحِلَةُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بِقَتَبِهَا يَنْجُو عَلَيْهَا الْمُؤْمِنُ لَهُ مِنْ دَسْكَرَةٍ تَغُلُّ مِائَةَ أَلْفٍ ) - ثم قال الشيخ الألباني رحمه الله - : موضوع ، أخرجه الطبراني في "المعجم الكبير" (18/332/853) ، ومن طريقه ابن الجوزي في "الموضوعات ، (3/ 191) من طريق عبد الوهاب بن الضحاك : ثنا إسماعيل بن عياش ، عن الأوزاعي ، عن عبدة بن أبي لبابة ، عن فيروز الديلمي ...مرفوعاً . وقال ابن الجوزي : "هذا حديث لا يصح ، قال العقيلي : عبد الوهاب ليس بشيء . وقال ابن حبان : كان يسرق الحديث ؛ لا يحل الاحتجاج به . وقال الدارقطني : منكر الحديث . وأما إسماعيل : فضعيف . وعبدة لم ير فيروزاً ، وفيروز لم ير رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " انتهى باختصار.
" السلسلة الضعيفة " (رقم/6178، 6179) 
Akan terdengar di bulan romadhon suara, mereka  bertanya : dipertengahanya atau di akhirnya? Beliau berkata : bahkan di pertengahan romadhon, jika malam pertengahannya bertepatan dengan hari jum’at, akan terjadi ledakkan dari langit, yang membuat terpana tujuh puluh ribu(orang), membuat bisu tujuh puluh ribu, membuat buta tujuh puluh ribu, membuat tuli tujuh puluh ribu, para sahabat bertanya : siapa yang selamat diantara umatmu wahai Rosulullah? Beliau berkata : siapa yang tetap dirumahnya, berlindung dengan bersujud, mengeraskan takbir kepada Allah. Kemudian di ikuti suara yang lain, suara yang pertama suara Jibril, yang kedua suara syaithon. Dan suara dibulan romadhon, keributan dibulan syawal, berselisihnya kabilah-kabilah di bulan dzulqo’dah, terhalangnya orang berhaji dibulah dzulhijjah, dan dibulan muharram, apa yang terjadi di bulan muharram, awalnya bala’ pada umatku, dan akhirnya kebahagiaan umatku, lari dizaman tersebut dengan kelembutannya menyelamatkan orang-orang beriman dari negri yang panas ratusan ribu.

Berkata syaikh al-Baniy : Maudhu’, dikeluarkan at-Thobraniy dalam Mu’jam al-Kabir(18/332/853) dan dari jalan Ibnul Jauziy dalam “al-Maudhu’at”  (3/191) dari jalan Abdul Wahab ad-Dhohak telah mengkabarkan Isma’il bin Iyyas dari al-Auzaa’I dari Ubadah bin Abi Lubabah dari Fairuz ad-Daylamiy..Marfu’.. berkata Ibnul Jauziy : Hadits ini tidak shohih, berkata al-Uqoiliy : Abdul Wahab : tidak ada suatupun darinya,  berkata Ibnu Hibban : Adalah pencuri hadits, tidak dihalalkan berhujjah dengannya. Berkata ad-Daruquthniy : Mungkarul hadits. Adapun Isma’il : dia Dho’if, dan Ubadah tidak bertemu dengan Fairuz, dan Fairuz tidak pernah bertemu Rosulullah j.

Berikut ini hadits tentang bintang berekor yang sering mereka nukil, hadits ini terdapat didalam kitab al-Fitan Nu’aim bin Hammad.

حدثنا عيسى بن يونس، والوليد بن مسلم، عن ثور بن يزيد، عن خالد بن معدان، قال : (( إنه ستبدو آية عمودا من نار، يطلع من قبل المشرق يره أهل الأعرض كلهم، فمن أدرك ذلك فليعد لأهله طعام سنة ))

Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dan al-Walid bin Muslim dari Tsauriy bin Yazid dari Kholid bin Mi’dan dia berkata :

( sesungguhnya hal tersebut akan dimulai dengan tanda sesuatu yg membentang dari api(komet) akan muncul dari arah timur, dan ia dilihat oleh semua penduduk  bumi, barangsiapa yang melihat hal tersebut maka persiapkanlah bagi keluarganya stock makanan selama setahun.[11]  
     
Bahkan setelah menyampaikan hadits-hadits ini ada diantara manusia yang ketakutan kemudian lari bersembunyi dengan menyiapkan bekal makanan bahkan ada yang berhenti bekerja di karenakan akan terjadinya hantaman meteor katanya la hawla wala quwwata illa billah sungguh para pendusta-pendusta ini telah membuat kegaduhan di tengah kaum Muslimin yang awwam. Dan mereka ini termasuk pendusta sebagaimana sabda Nabi j :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمداً فَلْيتبوأ مَقْعَدَهُ من النًّار

Siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka[12]

Bahkan Sebagian ulama mengkafirkan para pendusta atas nama Nabi j sebagaimana di nukil imam asyuyuthi : al-Juwainiy[13] berkata : “sesungguhnya siapa yang sengaja berdusta atas Nabi j kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari millah”.
Dan di ikuti juga oleh Sebagian ulama diantaranya Imam Naashirudin bin Munir[14] dari para imam mazhab Malikiyyah, bahwasanya perbuatan tersebut adalah bagian dari dosa-dosa besar, dikarenakan ia tidaklah sesuatu diantara dosa besar diikuti dengan kekafirannya disisi ahlis sunnah. Wallahu a’lam.[15]

Wahai para ust2 yang katanya pakar akhir zaman(peramal) hendaknya anda mengikuti nasehat para ulama dalam memahami dalil, bukan pemahaman yang keluar dari kantong anda sendiri, yang akhirnya mempermalukan diri anda sendiri. Ibnu Mas’ud h berkata :

اتَّبِعُوا وَلَا تبتدعوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، وُكلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ"

“Ikutilah bagi kalian, jangan membuat-buat suatu yang baru karna kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”

Dan imam Ahmad  r  juga pernah berkata :

إياك أن تتكلم في مسألة ليس لك فيها إمام

Hati-hati kalian berbicara dalam permasalahan yang kalian tidak memiliki imam padanya”.

Dan yang paling lucunya semacam ust yang berinisial IT mengatakan dalam videonya yang berjudul” MENYIKAPI POLEMIK DUKHAN DI PERTENGAHAN RAMADHAN 2020”.
Dia mengatakan bahwasanya kitab yang paling cocok tentang fitnah akhir zaman disaat ini adalah kitab  الموسوعة في الفتن والملاحم وأشراط الساعةatau versi terjemahannya “Zikir Akhir Zaman” karna menurut IT buku ini, buku yang didalamnya lebih komplit dari pada buku-buku ulama yang membahas tentang perkara akhir zaman, akan tetapi banyak yang berpegang dengan buku ini banyak meleset seperti ZMA, IT dan orang yang menganggap buku ini lebih bagus dari tulisan ulama lainnya.

Larangan menjadikan Hadits Palsu dan Dho’if dalam Perkara Aqidah

            Para ulama melarang mengambil hadits dho’if apalagi palsu dalam perkara Akidah sebagaimana kami nukilkan berikut ini.

Berkata an-Nawawi dalam syarah Shohih Muslim : (diharamkan meriwayatkan hadits palsu/Maudhu’ atas siapa yg di ketahui keadaannya palsu atau pada anggapannya hadits tersebut memang palsu, dan siapa yang meriwayatkan hadits mengetahui atau berprasangka akan kepalsuannya dan tidak menjelasakan keadaan riwayatnya maka dia termasuk kedalam ancaman, termasuk dalam ucapan dua pendusta atas Rosulullah j, karna beliau bersabda j:

من حدّث عني حديثا وهو يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين

“siapa yang menyampaikan dariku suatu Hadits, dan dia mengetahui hal tersebut bukan dariku, maka dia termasuk salah satu dari dua pendusta”.

Beliau berkata : tidak ada bedanya dalam keharaman atas Rosulullah j antara apa yg di dalam  perkara hukum-hukum dan tidak juga dalam targhib wa tarhib, nasehat dan semisalnya. Semuanya haram adalah termasuk dari dosa-dosa besar dan sesuatu yg sangat di benci, denga kesepakatan kaum muslimin yg telah ditetapkan oleh mereka kedalam Ijma’.

Telah sepakat ahlul hali wa aqdi atas haramnya berdusta atas salah seorang manusia, apalagi dengan seseorang yg ucapannya adalah wahyu, dan yg berdusta atasnya sama dengan berdusta atas nama Allah ta’ala, Allah ta’ala berfirman :

وما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاّ وَحْيٌ يُوحَى

“tidaklah Muhammad itu berbicara dengan hawa nafsunya melainkan ia adalah wahyu yg di wahyukan[16]

Berkata Imam Badruddin az-Zarkasyi dalam ( Nuktah ala Mukhtasar Ibnu Sholah)
Hukum hadits maudhu’ bahwasanya tidak halal di meriwayatkannya kecuali di maksudkan untuk menjelaskan perihal periwayatnya sebagaimana Rosullullah j bersabda:

من حدث عني بحديث وهو يري أنه كذب فهو أحد من الكاذبين 

"Siapa yang menyampaikan hadits dariku dan dia mengetahui bahwasanya hal tersebut dusta, maka dia termasuk satu dari dua pendusta

Beliau berkata : Adapun hadits lemah maka boleh dengan syarat :

Pertama : tidak dalam perkara aqidah. Imam an-Nawawiy juga menukil dalam  (ar-Raudhah & al-Adzkaar ) dan selain dari kedua kitabnya.

Kedua   : terdapat penguat padanya. (ini disebutkan oleh assyaikh Taqiyyuddin bin Daqiq al-‘Ied dalam syarah al-Ilmaam.

Ketiga     : tidak meyakini dengan keyakinan yg kuat apa yg ada dalam hadits tersebut
Kemudian berkata : sesungguhnya disebutkan : tidak di perbolehkan bagi kalian beramal dengan hadits dho’if kecuali ada penguatnya dan tidak boleh juga dengan hadits maudhu’ kecuali bersamanya ada penguat?

Kami katakan(assuyuthi) : di karenakan pada hadits dho’if pada asalnya ada dalam sunnah, dan hadits tersebut tidak terputus disebabkan kedustaannya, sedangkan hadits palsu tidak ada asal muasalnya, sedangkan penguatnya bagaikan membangun bangunan diatas air atau diatas jurang yang panas.[17]

Telah di paparkan oleh para ulama hadits mereka menegaskan bahwasanya tidak halal meriwayatkan hadits maudhu’ secara makna kecuali adanya disertai penjelasan kepalsuannya, serta khilaf dalam permasalahan hadits dho’if maka boleh meriwayatkannya selain digunakan pada hukum-hukum dan dalam permasalahan akidah.[18]

Adapun hadits dho’if ketika adanya keraguan antara riwayat yang telah di hapalkannya dan di sampaikan didepannya, dan antara ada yang telah terjadi pelanggaran didalamnya pada kedho’idfannya, kekuatan dan jeleknya hafalannya, tampak adanya peselisihan besar antara para ulama dalam menerimanya dan menolaknya, dan ini yang diperselisihan , dan jika ingin mengambil hukum-hukum fadhilah(keutamaan) tafsir, al-Maghaziy, assiyar dan selainnya, dan tidak diperbolehkan mengambil perkara Akidah seperti pengetahuan tentang Allah ta’ala, mentauhidkan-Nya serta nama dan Sifat-Nya balasan-Nya begitu juga dengan Qodho’ dan Qodarnya, jika tidak ada seseorang yg berpendapat dengannya, begitu juga perselisihan mereka tentang penerimaan Khobar ahad dan jika shohih pada domain ini, atau tidak diterima darinya kecuali jika mutawatir akan tetapi yang rojih dalam masalah ini adalah diterimanya Khobar ahad jika shohih dalam perkara akidah[19]

Diperbolehkan oleh para ahli hadits dan selainnya bermudah-mudahan pada sanad dan riwayat apa yg selain hadits palsu dari bermacam-macam hadist dho’if dari selain perhatian dan menjelaskan kelemahannya pada selain sifat Allah ta’ala, hukum syari’ah dari halal dan haram dan selain keduannya. Seperti nasehat, kisah-kisah, fadhoil amal,  selain cara menyampaikan targhib wa tarhib  , selain apa yg tidak berhubungan dengan hukum-hukum dan akidah. Dari orang-orang yg kami menerima riwayat darinya, yang dinukil, memberikan kelonggaran padanya seperti Abdurrahman bin Mahdiy, Ahmad bin Hanbal semoga Allah meridhoi keduanya[20]

Jika anda meriwayatkan al-Hadits dho’if yg tidak bersanad jangan katakan padanya : ( Rosulullah j bersabda begini dan begitu) jangan menyerupakan ucapan seperti ini dari berbagai lafazhnya seakan akan beliau j berkata demikian, hendaknya mengucapkan seperti, telah di riwayatkan dari Rosulullah j begini begitu, atau telah sampai kepadaku begini begitu, atau disebutkan darinya, atau datang darinya, atau diriwayatkan sebagian mereka, dan apa yang menyerupai itu, dan beginilah hukumnya jika dia ragu dia ragu dengan keshohihan dan kelemahannya ketika dia berkata : ( Rosululloh j ) adapun jika tampak bagimu keshohihan dan jalannya maka jelaskan lebih awal, wallahu a’lam[21]

Oleh karna itu kita dapati Ibnul Qoyyim membagi kabar-kabar yg di terima dalam bab perkara yang dapat di terima : dalam masalah Akidah menjadi 4 bagian :

Pertama : Mutawatir Lafazh dan Makna

Kedua    : Kabar yg mutawatir makna

Ketiga    : kabar yang luas diterima diantara umat

Keempat : kabar ahad yg diriwayatkan dengan nukilan yg adil kuat dari yang adil dhobit dengan lafazh an misalnya dan berakhir sanadnya sampai Rosullullah j ..
Adapun hadits dho’if tidak termasuk baginya kedalam Akidah.

Semoga saja kaum Muslimin dijauhi dari pembodohan para tukang cerita, peramal akhir zaman yang jauh dari bimbingan para Salaf dalam memahami dalil-dalil tentang kejadian akhir zaman, yang menjadikan akidah mereka rusak, semoga saja para pendusta tersebut segera bertobat dan Kembali kejalan yang lurus..

نسأل الله السلامة والعافية

ditulis Hanif abu Muhammad 
16 Romadhon 1441



[1] الشـريعة al-Ajurry hal.104
[2] الضوابط الشرعية لموقف المسلم في الفتن
[3] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.12
[4] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.14
[5] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.18

[7] Abdullah bin Lahiyyah bin Fur’an bin Robi’ah bin Tsauban al-Hadromiy al-A’duliy al-Fiqhi al-Qoodhi  Qodhi mesir dan dia dho’if haditsnya berkata tentangnya al-Jawzajaniy tidak disikapi haditsnya dan tidak pula di butuhkan dan tidak tertipu dengan riwayatnya, dan berkata Abu Ahmad al-Hakim : tidak di tulis haditsnya , berkata Ibnu Adi : haditsnya sebagaimana dia lupa, dan begitu juga dengan yang menulis haditsnya, berkata Ibnu Basykuwal menyebutnya dalam syaikh2nya Abdullah bin Wahab, dia berkata : Iktilath(kacau hafalannya) siapa yang meriwayatkan darinya sebelum Ikhtilath maka tidak mengapa, dan sebelum ikhtilath banyak waham(sering khilaf), dan banyak kesalahan, dan kitabnnya terbakar, berkata al-Baihaqiy dalam Sunan al-Kubro, dan di Ma’rifatus Sunan wal Atsar : tidak di butuhkan Haditsnya, di tempat lain berkata : sepakat para ahli Hadits atas kelemahannya, berkata Abut Hatim ar-Raziy : dho’if, dan goncang, ditulis haditsnya untuk sebagai pertimbangan, dan di tempat lain beliau berkata : seorang yang sholeh, berkata Ibnu Hibban : Mudalis, dia termasuk kelompok orang-orang yang lemah diantara orang-orang yang Tsiqoh mengoreksi mereka, kemudian meninggalkan haditsnya dan tidak peduli dengan pembelaan terhadapnya, mengkoreksi selain haditsnya atau bisa juga tidak, dan dia meriwayatkan dari Abdul Wahab bin al-Husain dan dia Majhul, dan abu Abdullah al-Hakim menyebutnya dalam al-Mustadrak, beliau berkata : Majhul, berkata Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan : dia Majhul.
[8] Didalamnya terdapat Muhammad Tsabit al-Bunaniy yang Dho’if, berkata tentangnya al-Bukhoriy : padanya dalam pertimbangan, berkata Yahya bin Ma’in : tidak ada sesuatupun darinya, berkata Ya’kub bin Sufyaan : tidaklah termasuk perawi yang kuat, berkata Abu Dawud : dia lemah(dho’if), berkata Abu Zur’ah ar-Rooziy : Haditsnya lembek, berkata Abu Haatim ar-Rooziy : Mungkar Haditsnya, haditsnya ditulis tapi diabaikan.
[9] Didalamnya terdapat al-Haarits bin Abdaallah al-A’war dan dia adalah Mutaham(orang yang tertuduh) berdusta, berkata tentangnya Ali bin al-Madiniy : pendusta, berkata Abu Zur’ah ar-Rooziy : tidak di butuhkan haditsnya, berkata Abu Haatim ar-Rooziy : tidak temasuk yang kuat dan tidak juga orang butuh ke haditsnya. Dan berkata tentangnya Abu Bakar bin Iyaas : tidaklah termasuk seorang petani ditanah mereka dan selainnya ridho dengannya, mereka berkata : dia adalah pemilik kitab, pendusta. Dan berkata tentangnya Ibnu Hibban dalam kitab orang-orang di jarh (al-Majruhhin) beliau berkata : condong ke syi’ah lemah dalam hadits. An-Nasa’I menyebutnya dalam ad-Dhua’afa wal Matrukin, beliau berkata : tidaklah kuat, ditempat lain : tidaklah mengapa. Berkata tentangnya at-Tirmidziy : dia diperbincangkan, dan mendho’ifkannya Sebagian ahli Ilmu. Dan berkata tentangnya Ahmad bin Shooleh al-Mishriy : tsiqoh apa yang di hafalnya, dan tidaklah lebih baik dari apa yang di riwayatkannya dari Ali dan aku memujinya, dikatakan kepadanya telah berkata assya’biy : dia berdusta, beliau berkata : dia tidak termasuk berdusta dalam haditsnya akan tetapi kedustaan atas pendapatnya. Ibnu hajar berkata dalam at-Taqrib : assya’bi mendustainya dalam pendapatnya, dan melemparnya dengan menolaknya, dan haditsnya dho’if. Berkata tentangya ad-Daruquthniy dalam kitab “ad-Dhuafa wal Matrukkin” , beliau berkata : Dho’if,  di tempat lain : jika dia bersendirian tidak kokoh haditsnya, berkata ‘Amir assya’biy : aku bersaksi bahwasanya dia termasuk  salah satu bagian dari para pendusta, ditempat lain : demi Allah dia itu pendusta,  berkata Yahya bin Ma’in : dho’if, ditempat lain : tidak mengapa, di tempat lain, Tsiqoh dari apa yang dia riwayatkan dari Ali bin Abiy Thoolib. Berkata Ibnul Madiniy dan Zhuhair bin Harb dan Zhuhair bin Muawiyyah : pendusta.

[10] كتب الفتن لنعيم بن حماد ص 362
[11] مقطوع صحيح الإسناد إلي خالد بن معدان
[12] HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Madkhal
[13] Beliau adalah Abdul Malik bin Abdullah al-Juwayniy abu Ma’aliy, ruknu addin Imam al-Haramain, dilahirkan di Juwain, rihlah ke Baghdad dan Makkah, dimana beliau bolak balik sekitar 4 tahun, dan pergi ke Madinah kemudian Balik ke Naisabur, dan didirikan untuknya oleh mentri sebuah Madrasah disana, dan wafat di Naisabur 478H
[14] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Manshur Naashiruddin al-Malikiy, dikenal dengan Ibnu Munir, yang luas keilmuannya diantara tulisannya ( الإنتصاف من الكشاف ) dilahirkan tahun 620H dan wafat di Iskandariyyah tahun 683H.
[15] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.125
[16] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.130
[17] تحذير الخواص من أكاذيب القصاص hal.136
[18] الحديث الضعيف وحكم الاحتجاج به hal.133
[19] الحديث الضعيف وحكم الاحتجاج به hal.247
[20] Mazhab Jumhur beramal dengan Hadits dho’if dalam fadhilah amal dengan tiga syarat :
1.        Bahwasanya dhoifnya tidak terlalu berlebihan, jika lemah sangat seperti rawinya pendusta atau sering berbuat maksiat maka terlarang beramal dengannya.
2.        Bahwasanya Hadistnya di letakkan  dibawah yg asalnya pendukung dari usul syari’ah secara umum.
3.        Dan tidak berkeyakinan ketika beramal bahwasanya itulah yg di tetapkan, akan tetapi berkeyakinan sebagai pendukung.
[21] مقدمة ابن الصلاح في علوم الحديث hal : 102






 [HAM1]An


Share on Google Plus

About abu muhammad

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah” (HR Bukhari, Muslim)