SHOLAT KHUSUF


Menurut prediksi astronom akan terjadi gerhana matahari total di hari rabu 29 Jumadil ula atau bertepatan dengan tanggal 9 maret, dan yang membuat kita miris adalah ketika kaum muslimin mengannggap itu hanya sebagai fenomena alam biasa padahal hal tersebut adalah bagian tanda dari tanda-tanda kekuasan Allah Azza wa Jalla bukannya malah berzikir akan tetapi mereka menyambutnya dengan berkumpul di tempat tertentu mengadakan band, nanyi-nyanyian, dan berbagai kerusakkan lainnya, semestinya sifat seorang muslim itu sebagaimana di sebutkan Allah dalam ayatnya :
                                         إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)
Bayangkan kita dengan Rasulullah ketika beliau melihat awan dan angin yang mengisyaratkan tanda-tanda hujan beliau langsung berubah wajahnya di karenakan takut akan ditimpakannya azab Allah. Memang benar sabda Nabi   semakin jauhnya kita dari zaman beliau semakin jeleknya keadaan kita sebagaimana hadis Anas bin Malik :
ما مِن عامٍ إلاَّ والَّذي بعده شرٌّ منه
“Tidaklah berlalu suatu zaman kecuali setelahnya lebih jelek dari sebelumnya”.
Dan di tengah kejahilannya kaum muslimin dan jauhnya mereka dari sunnah-sunnah Nabi marilah kita mencoba mengajak mereka kembali setapak demi setapak merangkai sunnah-sunnah yang telah tertutupi kabut kejahilan dan kebodohan tersebut..
Sholat al-Khusuf adalah sholat yang dilakukan ketika terjadinya gerhana matahari dan bulan, di dalam kitab al-Mughni ibnu Qudamah rahimahullah (wafat 620H) beliau menyebutkan :
Sholat الكسوف  atau الخسوف sesuatu yang satu, keduanya telah di sebutkan dalam beberapa khabar, dan didalam al-Qur’an lafazhnya الخسوف..
Telah Bersabda Abu al-Qoosim(Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)

وإذا خسفت الشمس و القمرفزع الناس إلي الصلاة، إن أحبوا جماعة وإن أحبوا فرادى

Jika terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan maka pertakutilah mereka agar melaksanakan sholat, sesungguhnya aku menyukai sholat berjama’ah dan juga sendirian.
Sholat khusuf telah tetap bahwasanya itu sunnah Rasulullah , sebagaimana yang akan kami sampaikan, dan kami tidak mengetahui diantara ahlul ilmi dalam pensyari’atannya bagi shalat gerhana matahari terjadi khilaf, dan kebanyakan para ahlul ilmi bahwasanya di syari’atkan bagi gerhana bulan, sebagaimana diisyaratkan Ibnu Abbas. dan begitu juga pendapat Atho’, al-Hasan, anNakha’I, asSyafi’I, Ishaaq, dan juga sebagaimana pendapat Maalik : tidaklah bagi gerhana bulan di sunnahkan sholat dan di ceritakan oleh Ibnu Abdil barr darinya, dari Abi Hanifah bahwasanya keduanya berkata : “sholatnya manusia apabila terjadi gerhana bulan dua raka’at dua raka’at, dan mereka tidak sholat dalam keadaan berjama’ah, dikarenakan keluarnya mereka kepadanya adalah sesuatu yang memberatkan. Dan bagi kami. Dari Nabi bersabda :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لحياته ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذلك فَصَلُّوا

“Sesunggunya matahari dan bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, gerhana itu tidak terjadi dikarenakan meninggalnya seseorang dan tidak juga di karenakan lahirnya seseorang, jika kalian menyaksikkannya maka sholatlah”[1]
Maka diperintahkan sholat bagi keduanya adalah perintah yang satu.
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya beliau sholat bersama ahli Bashrah ketika gerhana bulan dua rak’at, kemudian berkata : sesungguhnya sholatku ini kareka aku telah melihat Rasulullah sholat[2] karena ia  satu diantara dua gerhana, dan juga menyerupai gerhana matahari, dan di sunnahkan melakukannya baik berjama’ah maupun sendiri-sendiri, sebagaimana pendapat Maalik, asSyafi’I dan juga di ceritakan dari atTsauriy beliau berkata : “ sesungguhnya sholatnya bersama imam sholat mereka bersamanya, dan jika tidak ada maka jangan lakukan, pendapat kami(Ibnu Qudamah) sabda Nabi ‘alaihi shalatu wasallam : (( Jika kalian menyaksikkan gerhana, maka sholatlah)) di karenakan hal tersebut sunnah maka diperbolehkan sendirian malakukannya, sebagaimana sholat-sholat sunnah lainnya. Dan jika telah tetap maka melakukannya secara berjama’ah lebih di utamakan. Dikarenakan Nabi sholatnya beliau secara berjama’ah, dan di sunnahkan sholatnya di masjid karena Nabi melakukan hal yang demikian, berkata ‘Aisyah : “gerhana matahari terjadi dimasa Rasulullah maka beliau keluar menuju Mesjid, maka manusia berdiri di belakang beliau[3] di karenakan waktu gerhana tersebut sangat singkat sekali di karenakan keluar menuju ketempat sholat sebelum gerhana tersebut berubah bentuknya dan di sya’riatkan bagi yang orang yang hadir maupun yang sedang safar dengan izin imam maupun tanpa seizinnya. Berkata Abu Bakar : sholatnya sebagaiman sholat al-Ied, padanya ada dua riwayat-pendapat kami- sabda Nabi “jika kalian menyaksikkannya(gerhana) maka sholatlah kalian” dikarenakan hukumnya sunnah sebagaimana sunnah-sunnah yang lainnya, dan juga di syari’atkan bagi wanita dikarenakan ‘Aisyah dan Asmaa’ sholat bersama Rasulullah diriwayatkan Bukhari[4] dan disunnahkan ucapan ketika akan mendirikan sholat dengan panggilan “asSholata Jaami’ah” sebagaiman di riwayatkan Abdillah bin
Amru beliau berkata : ketika gerhana matahari pada zaman Rasulullah
di ucapkan panggilannya dengan “asSholati Jaami’ah”[5] dan tidak di anjurkan “Adzan dan Iqomah” di karenakan Nabi melakukannya tanpa adzan dan iqomah di karenakan berbedanya sholat tersebut dengan sholat lima waktu, sama halnya dengan sholat sunnah yang lainnya.
Tata caranya Sholat Khusuf :
di baca di awalnya ummul kitab(al-fatihah) kemudian surat yang panjang, dijaharkan ketika membacanya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian berdiri dan membaca lagi dan berdiri lama, dan tidak sebagaimana berdiri awal, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, dan ia tidak sebagaimana ruku’ awal, kemudian sujud dengan dua sujud yang lama, dan berdiri lagi sebagaimana raka’at awal, padanya terdapat empat rakuk, dan empat kali sujud, kemudian tasyahud dan salam.

Jumlah yang disukai dalam sholat khusuf adalah dua raka’at,  takbiratul ihram, membaca do’a istiftah, berta’awudz, kemudian membaca al-Fathihah dilanjutkan dengan surah al-Baqarah yang panjang sesuai kemampuan, kemudian ruku’ kemudian bertasbih kepada Allah ta’ala seukuran panjangnya bacaan seratus ayat kemudian berdiri, dan menyebut “sami’ Allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu. Kemudian membaca al-Fatihah dan Ali Imran, seberapa sanggupnya kemudian ruku sepertiga ruku’ awal panjangnya kemudian berdiri dan membaca sebagaimana bacaan awalnya kemudian sujud dengan dua kali sujud yang lama kemudian berdiri untuk raka’at kedua, dan membaca al-Fatihah dan AnNisaa kemudian ruku’ dan memuji Allah sebanyak sepertiga ruku’ kedua tadi, kemudian berdiri lagi membaca al-Fatihah dan al-Maaidah kemudian ruku tidak seperti panjang ruku’ yang sebelumnya kemudian berdiri sambil membaca “sami’ Allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu” kemudian sujud yang lama dan begitulah gabungan kedua rakaat tersebut, dalam setiap raka’at dua kali berdiri dua kali bacaan, dua kali ruku’, dua kali sujud.[6]

Diperbolehkan juga membaca surat al-Ankabut, ar-Rum, dan Yasin sebagaimana di riwayatkan imam ad-Daruqthni.
Dan disukai amalan-amalan lainnya seperti zikir kepada Allah ta’ala, bersedekah, berdo’a istighfar dan amal yang mendekatkan diri sebagaimana kemampuan masing-masing orang.
 disunnahkan berkhutbah setelah selesai sholat dan tidak sama sebagaimana khutbah Jum'at..

Wallahu ‘alam..

Hanif abu Muhammad
28 Jumadil Ula-8/3/2016





[1] Mutafaqun ‘alaih
[2] Dikeluarkan oleh al-Baihaqiy dalam bab. Sholat bagi gerhana bulan dari kitab sholat Khusuf. Assunan al-Kubraa III/338
[3] HR.Bukhari II/43-45
[4] Dalam bab shoaltnya wanita bersama para lelaki dalam sholat gerhana, kitab sholat al-Khusuf II/46
[5] HR.Bukhari bab. Panggilan ketika sholat Jaamaah dalam sholat al-Khusuf II/43-45.
[6] Al-Mughni Ibnu Qudamah Jilid III
Share on Google Plus

About abu muhammad

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah” (HR Bukhari, Muslim)