Adab Berbisik-bisik


Pertanyaan : Dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
 “إذا كنتم ثلاثة فلا يتناجى اثنان دون الآخر حتى تختلطوا بالناس ، من أجل أن يحزنه”
“Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik tanpa mengajak yang lainnya, hingga mereka bercampur dengan orang-orang, karena hal tersebut akan menyakitinya .” (Muttafaq ‘Alaih.

Apakah perkara ini haram atau makruh/yang dibenci, apakah ini terbatas pada tiga orang saja, apakah jika lebih dari tiga orang sudah menafikan hal tersebut?

Jawab : Alhamdulillah
Pertama : Bagian dari adab yang diatur Islam ketika dalam sebuah majlis : terlarangnya dua orang berbisik-bisik tanpa mengikutkan orang yang ketiga, dan itulah penjagaan agar selamatnya hati Telah di riwayatkan oleh Bukhari (6290) dan Muslim(2184) dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata : telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam :” “Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik tanpa mengajak yang lainnya, hingga kalian bersama-sama dengan yang lain, karena hal tersebut akan Menyakitinya.” Dalam riwayat atTirmdziy (2825) dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata : telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam : (“Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik, tanpa mengikut sertakan sahabatnya yang lain”) di shohihkan syaikh al-Baaniy dalam” shohih sunan at Tirmidziy”

Kedua : Ungkapan larangan dalam hadis yang sebelumnya zhohirnya adalah haram, ialah keharam berbisiknya dua orang tanpa orang yang ketiga atau sekumpulan orang tanpa mengikut sertakan salah seorang dari mereka. Berkata anNawawiy rahimahullah : dalam hadis ini terdapat larangan berbisik-bisiknya dua orang dengan adanya orang ketiga, dan juga tiga orang dan termasuk ketika banyaknya manusia tanpa mengikutkan salah seorang dari mereka, dan hal tersebut terlarang dan diharamkan, maka di haramkan atas sekumpulan orang berbisik tanpa mengikut sertakan salah seorang dari mereka kecuali dengan seizinnya.(syarah Shohih Muslim)

ketiga : Pengecualian terhadap larangan permasalahan berbisik-bisik

Permasalahan pertama : jika dua orang yang berbisik-bisik dengan izin orang yang ketiga, maka hal tersebut dibolehkan sebagaimana dalam riwayat Ahmad (6302) dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma beliau berkata : telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik, kecuali dengan izinnya, karna yang demikian akan membuatnya sedih(orang yang ketiga)”.

Permasalahan kedua : jika disana terdapat lebih dari tiga orang, maka di perbolehkan berbisik-bisik dua orang tanpa yang lainnya, sebagaimana terdapat dalam riwayat abu Daawud (4851) yang di sebutkan didalamnya : telah berkata abu Shoolih aku bertanya kepada ibnu Umar : bagaimana jika berempat? Maka beliau menjawab (itu tidak akan memudharatkanmu).

Berkata an-Nawawi rahimahullah “dalam syarah shohih Muslim”: adapun jika mereka berempat berbisik-bisik dua orang diantara mereka tanpa mengikut sertakan dua orang yang lainnya, maka tidak mengapa berdasarkan ijma’(kesepakatan para ulama)” selesai kutipan.

Telah berkata syaikh Muhammad bin abdul Haadiy rahimahullah : beliau berkata (jika kalian bertiga) ini menunjukan bahwasanya jika lebih dari tiga orang di perbolehkan berbisik-bisik, di karenakan memungkinkan orang yang ketiga tadi bisa berbicara dengan orang yg keempat, dengan adanya orang yg keempat maka orang yang ketiga tersebut tidak takut terhadap dirinya diantara kejelekkan dua orang tersebut”sekian kutipan” catatan kaki asSindiy pada kitab Sunan Ibnu Majah”

Permasalahan ketiga : jika disana terdapat hajat atau maslahat yang kuat daripada mafsadat berbisik-bisik, maka diperbolehkan dalam perkara ini berbisik-bisiknya dua orang tanpa ikut sertanya yang ketiga. Berkata anNawawi rahimahullah dalam “ Riyaadhus Shoolihin” bab dilarangnya berbisik-bisiknya dua orang tanpa orang ketiga tanpa seizinnya kecuali terdapat hajat.

Dan berkata syaikh Shooleh al-Munajid hafidzahullah –mengingat gambaran diantara gambaran bisik-bisik yang mubah-diantara gambaran permisalannya : terkadang datang kepadamu tamu sedangkan engkau dan dia sedang duduk maka datang kepadamu anakmu atau pembantumu maka memaksamu untuk berbisik ke telinga anak dan pembantu tersebut agar menyiapkan makanan misalnya, atau mengosongkan jalan misalnya, atau terkadang berkata anakmu padamu, sesungguhnya ibu berbicara begini dan begitu, dan dalam hal ini sesungguhnya tingkatan muru’ah manusia tidaklah menampakkan sesuatu di depan tamunya, dan inilah masalah yang dia mengandung maslahat yang menolak kerusakan dan keraguan padanya, di karenakan tamu tersebut akan menyangka pada anakmu ketika engkau berbisik padanya yang perkataanmu tersebut berbicara sesuatu tentangnya, dan ketika engkau akan mengatur antara dirimu dan dia(anakmu) perkara yang berhubungan dengan tamu tersebut atau yang berhubungan dengan keluargamu dan masuknya mereka kedalam rumah dan karena itu mereka tidak merasa sedih, dan inilah berbisik-bisik yang di bolehkan bagi seseorang.. والله أعلم
Alih Bahasa : Hanif abu Muhammad

========================================================================
Bagi anda yang ingin berinfaq dijalan Allah ta'ala kami sedang dan akan melakukan pembangunan surau 'Assyari'ah' yang beralamat di Pakan Ambek, Jorong Ladang Laweh, Nagari Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Nomor Rekening : 707 650 3227 Bank Syariah Mandiri / BSM Cab. Bukittinggi a/n Yayasan Ummul Qura Khairul Huda

Contact Person :
Ust. Jefrizal Abu Aisyah (0853 7444 2893)
Hanif Abu Muhammad (0813 6354 2715)
M. Rafkin Dt Tuo (0813 9893 9434)

Klik DONASI
Share on Google Plus

About abu muhammad

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment