Seputar Permasalahan Zakat Fithri

Bismillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memudahkan kita sampai pada bulan ramadhon yang penuh berkah ini serta salawat beserta salam kami haturkan kepada Nabi kita Shallallahu alaihi wa Sallam karib kerabat beliau, sahabat-sahabatnya dan kaum muslimin yang senantiasa menapaki jalan yang beliau tempuh sebagaimana sabda beliau “yang aku dan sahabatku diatasnya (yakni Sunnah beliau)”. 


Kaum muslimin yang membaca bulletin ini semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami dan anda. Diantara ibadah-ibadah yang wajib pada bulan ramadhon adalah zakat Fithri/zakat fitrah dan untuk edisi ke-4 ini kami akan mencoba mengupas khusus tentang permasalahan zakat fithri tersebut, semoga Allah memudahkannya.

Zakat secara bahasa bermakna berkembang, bertambah, suci dan barokah (An-nihayah fi Ghorib al-Hadits: 2/307, Ibnu Atsir, at-Ta’riifaathal.117, Ali Jurjani, Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hal.436, Ibnu Faris) 

Sedangkan fithri secara bahasa bermakna berbuka.Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hal.820, Ibnu Faris)

Sehingga bila kedua kata ini digabungkan, maknanya adalah zakat yang ditunaikan seorang muslim untuk dirinya atau orang lain pada akhir bulan Ramadhon, saat orang –orang yang berpuasa telah berbuka dan selesai ibadah puasanya.

Zakat ini dinamakan sebagai zakat fithri berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya dia berkata:
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri satu sho’ dari kurma , atau satu sho’ dari gandum bagi budak, orang yang merdeka, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin.”(HR.Bukhari: 1503 dan Muslim:984)
Dinamakan juga zakat ramadhon sebagaiman hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu  bahwasanya beliau berkata
“Rasulullah menugaskan diriku untuk menjaga zakat Ramadhan.”(HR.al-Bukhari: 2311)    
Imam ibnu mundzir Rahimmahullah berkata  : 
Para Ulama telah sepakat bahwa zakat fithri hukumnya wajib”. (Al Ijma’ hal.55, Ibnul Mundzir.lihat pula  Al-Iqna’ fi Masail Ijma’: 1/218, Ibnul Qotthon, al-Mughni:4/280, ibnu Qudamah) 
Kepada Siapa diwajibkan 


1. Muslim
Wajib bagi setiap muslim untuk menunaikan zakat fithri, baik bagi orang merdeka, budak (hamba sahaya, laki-laki, wanita, anak kecil, ataupun orang dewasa.(Bidayah al-Mujtahid: 1/326, Ibnu Rusyd)


Berdasarkan hadist Ibnu Umar diatas. Imam Ibnu Qudamah Rahimmahullah mengatakan :
”Dan termasuk bagi anak yatim -Hendaknya wali yatim mengeluarkan zakatnya dari harta anak yatim tersebut" (al-Mughni:4/283)
Adapun orang kafir  maka  tidak wajib mereka membayarnya dan tidak sah bila membayarnya. (Kifayah al-akhyar hal.274)


Allah Berfirman:
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.”(QS. At-Taubah[9]:54)
Permasalahannya
Adakah zakat fithri bagi janin?

Para ulama mahzab hanabilah menganjurkan untuk mengeluarkan zakat fithri bagi janin.(Al-Mufasshol fi ahkam al-Mar’ah: 1/462, DR. Abdul Karim Zaidan) 


Yang menjadi dasar dari mahzab ini adalah sebuah atsar dari Ustman bin Affan radhiallahuanhu bahwasanya beliau mengeluarkan zakat fitri bagi janin. (Mushannaf ibnu Abi Syaibah: 3/212)

Imam ibnu mundzir rahimmahullah mengatakan: 
“Para ulama telah sepakat bahwasanya tidak ada kewajiban zakat bagi janin yang dalam perut ibunya.” Imam Ahmad bin Hanbal  rahimmahullah bersendirian dalam masalah ini dengan menganjurkan zakat bagi janin dan tidak mewajibkannya.(Al-Ijma’ hal.50. lihat pula al-Iqna fi Masail Ijma’: 1/219, Ibnul Qotthon)
Akan tetapi anjuran mengeluarkan zakat fithri bagi janin ini di isyaratkan bila usia janin telah mencapai empat bulan, yaitu ketika ruhnya telah ditiupkan.(As-Syarah al-Mumti’:6/161, Ibnu Utsaimin)


2. Mampu dan mempunyai kecukupan

Maksudnya bahwa zakat fithri tidak wajib melainkan bagi orang yang mempunyai kecukupan lebih dari satu sho’ untuk hari raya dan malamnya. (Barang siapa yang tidak mampu membayar zakat fithri saat tiba waktu wajibnya, maka gugurlah kewajiban    tersebut.(bada’I al-Fawaid: 4/1348, Ibnul Qoyyim)

Apabila seseorang mempunyai makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya untuk hari raya dan malamnya, kemudian makanan itu masih tersisa  satu sho’ maka hendaklah dia mengeluarkan zakat fithrinya. (As-Syarah al-Mumti’: 6/151, Ibnu Utsaimin)


Imam al-Khothobi rahimmahullah mengatakan:
“Zakat fithri bagi seluruh orang yang puasa. Orang kaya yang mempunyai keluasan atau orang miskin yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan pokoknya. Karena sebab wajibnya zakat fithri  adalah untuk membersihkan jiwa, dan hal ini di butuhkan oleh seluruh orang yang puasa. Apabila mereka semua sama dalam hal ini, maka sama pula dalam kewajibannya” (Ma’alim as-Sunan:2/47, al-Khatthobi) 
Waktu mengeluarkan Zakat Fithri

Menurut pendapat terkuat dan berdasarkan dalil-dalil yang shohih, waktu mengeluarkan zakat fithri ada dua (Ittihaf Ahlil Iman Bi durus syahri ramadhon hal.124, DR.Shalih al-Fauzan)
1. Waktu yang afdhol (utama) yaitu sejak malam hari raya hingga sebelum sholat ‘Ied 

Berdasarkan hadits berikut ini: Dari ibnu Umar  radhiallahuanhuma, ia berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintah kami agar zakat fithrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat ke tempat sholat ‘idul fitri,” (HR. al-Bukhari: 1503 dan HR.Muslim: 984)
2. Waktu yang boleh, yaitu satu hari atau dua hari sebelum hari raya. 

Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata:
“Nabi mewajibkan zakat fithri… dan mereka para sahabat satu hari atau dua hari sebelum hari raya.”(HR. al-Bukhari: 1511 dan HR.Muslim: 984)
Haram menunda pengeluaran zakat fithri hingga diluar waktunya tanpa ‘udzur syar’i dan tidak diterima zakatnya (Al-Wajiz. Abdul azhim bin Badawi, As-Syarah al-Mumti’6/172, ibnu Utsaimin, fatwa lajnah  Daimah:9/373)

Ibnu Abbas  radhiallahuanhuma berkata:
“Rasulullah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih orang yang puasa dari perbuatan sia-sia dan kotor serta memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikanya setelah sholat maka dia adalah seperti sedekah-sedekah lainnya.”(HR. Abu Dawud: 1609, HR. Ibnu Majah: 1827, dihasankan oleh al-Albani dalam al-Irwa:843)
Ukuran dan Jenisnya

Ukuran zakat fithri adalah satu sho’ Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam. hal ini berdasarkan hadits-hadits yang masyhur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah: dari abu Sa’id al-Khudri berkata:
“Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri satu sho’ makanan, atau satu sho’ gandum, atau satu sho’ kurma atau satu sho’ keju atau satu sho’ anggur kering.”(HR. al-Bukhari: 1506 dan HR.Muslim: 985)
Satu sho’ adalah empat mud, satu mud adalah satu cakupan kedua tangan laki-laki berperawakan sedang, dalam keadaan jari jemari tidak menggenggam juga tidak melebar (Al-Qamus al-Muhith hal.407 dan 955, Fairuz abadi, Fathul bari 11/597, fatwa lajnah daimah 9/365)

Maka satu sho’ bila di ukur dengan ukuran kilogram hasilnya sekitar 2,04kg. (Majalis syahri ramadhan hal.327, Ibnu Utsaimin)
Lalu bagaimana dengan ukuran 

Karena ukuran diatas adalah ukuan dengan gandum, maka bagaimanakah  dengan beras? Setelah di uji coba di ma’had al-furqon pada tahun 1426 H, ternyata ukuran satu sho’ bila dengan beras hasilnya adalah 2,33 Kg atau 2,7 liter beras kualitas sedang (lebih afdholnya beras yang biasa kita makan sehari-harinnyaAllahu A’lam (Ukuran zakat fitrhi oleh ustadzuna al-fadhil Ahmad Sabig pada majalah al-Furqon edisi khusus Th.7, 1428H)
Permasalahan
Bolehkah zakat fithri diganti dengan Uang? 

Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh diganti dengan uang (Masail  Mimma Ta’ummu Bihi al Bahwa  fi Fiqhil Ibaadat hal.378 Nayif bin Jum’an), ini merupakan merupakan mazhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah (Ma’alim as-Sunan: 2/219,  al-Mughni: 4/295,  Kifayah al-akhyar hal.276) adapun mahzab Hanafiyyah membolehkanyya (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: 23/344).


Namun pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena beberapa alasan.
  1. Dalil-dalil dari pendapat pertama lebih kuat dari yang kedua
  2. Mengeluarkan zakat fithri dengan uang menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena pada zaman beliau mata uang sudah ada, namun tidak dinukil kabar beliau memerintahkan para sahabatnya mengeluarkan zakat fithri dengan dinar ataupun dirham
  3. Ibadah ini telah dibatasi dengan waktu, tempat, jenis dan ukurannya serta harus berdasarkan dalil, sehingga tidak boleh menyelisihi dari ketentuan yang ada. (Lihat QS.al-Maidah ayat.3 karena agama Islam telah sempurna dan tidak membutuhkan cara-cara yang baru dalam ibadah)
Yang berhak menerima zakat fithri
Zakat fithrah hanya dialokasikan kepada orang-orang miskin saja. Ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahuanhuma:
“….sebagai makanan bagi orang-orang miskin saja.” (hadistnya telah kita sebutkan sebelumnya) (Al-Wajiz. Abdul azhim bin Badawi. Pustaka as-Sunnah)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimmahullah berkata:” pendapat inilah yang lebih kuat dalillnya”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah: 25/73)


Bolehkah dibagikan kepada delapan golongan?

Imam Ibnul Qoyyim rahimmahullah berkata:
”Termasuk petunjuk Nabi dalam zakat fithri pengkhususan orang-orang miskin. Nabi tidak pernah membagikannya kepada delapan golongan, tidak memerintahkan dan tidak pernah dikerjakan oleh seorang sahabat-pun dan tidak pernah dikerjakan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Bahkan kami katakan, tidak boleh menyalurkan zakat fithri kecuali kepada orang miskin.pendapat ini lebih kuat daripada yang mengatakan boleh kepada menyalurkannya kepada delapan golongan”.(Zaadul Ma’ad: 2/21)
Tempat penyaluran zakat fithri

Zakat fithri hendaklah dikeluarkan di tempat dia tinggal dan menghabiskan puasa ramadhonnya.(Ahadits Shiyam hal:159, Abdullah bin Shalih al-Fauzan). Karena ada sebuah kaedah yang disebutkan oleh para ulama bahwa zakat fithri mengikuti badan, sedangkan zakat harta mengikuti harta itu berada (As-Syarah al-Mumti’: 6/214, Ibnu Utsaimin)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Muadz bin Jabal radhiallahuanhu:
“Maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orang fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari: 1395 dam HR. Muslim :19)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimmahullah berkata:
”Yang sunnah adalah membagikan zakat fithri bagi orang-orang fakir ditempat orang yang mengeluarkan zakat. Dan tidak dipindah ke negri atau tempat yang lain di daerahnya (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 14/213)
Faedah Zakat Fithri

Boleh bagi beberapa orang yang mengeluarkan zakat fithri untuk memberikannya kepada satu orang miskin saja, demikian pula sebaliknya, boleh bagi satu orang yang membayar zakat fithri untuk memberikannya kepada beberapa orang miskin. Karena Nabi hanya menentukan ukurannya saja dan tidak menentukan ukuran orang penerima zakat. (Ar –Raudh al-Murbi’: 4/187, al-Buhuthi, as-Syarah al-Mumti: 6/184, Ibnu Utsaimin)

Berdasarkan keumuman ayat:
“ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah utuk orang fakir dan orang-orang fakir dan orang-orang miskin.” (QS. At-Taubah[9]: 60)
Inilah  yang dapat kami kumpulkan seputar permasalahan zakat fithri. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat. Wallahu A’lam. (Di salin dari majalah al-Furqon no.95 edisi khusus th.1430H dan beserta tambahan referensi lainnya)

Washallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa’ala aliy wa sahbihi wa Sallam.


oleh : Hanif Abu Muhammad
Share on Google Plus

About assunnah

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment