Bagaimana Zaman Akan Hancur (Nasehat Umar bin Khathab )

Diriwayatkan dari Asy-sya’bi dari Ziyad bin Jarir, ia berkata : “ saya mendatangi Umar bin Khathab kemudian beliau berkata: “ Wahai Ziyad! Apakah kamu sedang meruntuhkan bangunan Islam atau sedang menegakkannya.” Lalu beliau berkata: “sesungguhnya zaman akan hancur karena ketergelinciran ulama dank arena munculnya perdebatan orang-orang munafik[1] atau pemimpin yang menyesatkan[2].”

Kebangkitan memiliki perantara, demikian pula kehancuran memiliki tanda-tanda. Sedangkan kaum Muslimin dituntut waspada terhadap unsur-unsur pemicu dan konsisten dengan sarana-sarana menuju kebangkitan serta hendaknya tidak berlaku toleran terhadap orang –orang yang hendak menghancurkan bangunannya, merobohkan sendi-sendinya dan menyebarkan malapetaka yang tiada membedakan antara orang shaleh dan yang jahat.[3]
 
Bila orang berilmu tergelincir adalah bencana. Karena manusia selalu mendengarkan kata-kata mereka, mengagumi ilmunya maka ia harus menjaga penampilannya di hadapan orang[4]. Harus ada keserasian antara ilmu dan amal dan hendaknya diketahui bahwa ilmu adalah amanah yang menuntut pemiliknya untuk memikulnya, menunaikan dan mengamalkannya. Jika tidak, niscaya menjadi boomerang bagi pemiliknya lagi pula tidak akan bermanfa;at bagi manusia.
Ketergelinciran orang alim kadang terjadi dalam ucapan, terkadang dalam aplikasi amal dan perangai, yang terakdang dalam pemikiran yang mengekor hawa nafsu dan mencampakkan kebenaran. Demikian terus berjalan hingga ia merasa bangga dengan dosanya ketika di ingatkan akan kesalahan-kesalahannya. Ia konsisten dengan pembangkangannya, berusaha mencari dalil-dalil palsu yang tidak bias di jadikan landasan yang benar atau menolak dengan logikanya yang tidak akan menjadi pembenaran atas kesalahannya.
Semua aliran-aliran yang bathil maupun pemikiran sesat berpankal dari ketergelinciran dan pembangangkangan semacam itu. Padahal seharusnya orang berilmu itu mencari kebenaran dan menempuh jalan yang benar pula, sama saja apakah kebenaran itu dia dapatkan dengan mencarinya atau dari orang lain yang menunjukinya.
Masalah perdebatan orang-orang munafiq, maka hal ini termasuk penghancur tatanan kehidupan, baik dalam pemikiran, wawasan ataupun kemasyarakatan . ia adalah pemicu peperangan. Di seputar problematika telah ia ketahui mana yang benar sebelum diketahui orang lain namun ia menyembunyikan kebenaran itu lalu ia meniupkan virus syubhat dan menyibukan manusia dalam perkara yang bathil[5]. Targetnya adalah merobohkan dan bukan antuk membangun.
Berapa banyak kehidupan masyarakat muslim hari ini ternodai oleh kesibukan berdebat dengan bathil hingga melalaikan kaum muslimin dari metode berfikir yang lurus di masa sekarang dan menggariskan target yang benar dimasa yang akan dating.
Mereka senantiasa berdebat ( atau istilah yang digunakan rasionalis, liberal, syi’ah dengan berdialog pent)[6] untuk memperbincangkan perkara-perkara yang telah baku dalam Islam berdasarkan nash-nash al-Qur’an maupun as-Sunnah seperti masalah wanita atau wajibnya penerapan hokum Islam dan mereka mengklaim ijtihad palsu yang berdasarkan kaidah-kaidah yang rusak.
Setelah itu datanglah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan yang tidak peduli akan nasib umatnya[7] dan tiada upaya untuk membimbing mereka kepada jalan yang benar melainkan sedikit sekali. Bahkan mereka jerumuskan ke dalam kesesatan, memperdayakan mereka dengan syahwat, agar mereka tidak agresif dan jauh dari agama dan istiqamah.
Begitulah, Umar bin Khathab memperingatkan kepada kita akan unsur-unsur yang dapat merobohkan bangunan hingga tak dapat menambah tingginya bangunan, tidak pula bertambah baik amalnya dan menyebabkan upaya kita menjadi tidak lurus, agar umat selamat darinya, waspada terhadap bahayanya. Umat Islam perlu menolak bahaya penyimpangan tersebut dan mewaspadai akan sebab-sebab penyimpangan itu, serta tidak tenggelam dalam kebathilan dan mempersempit gerak penyeru hawa nafsu yang akan menggiring kepada kehancuran.!
Bagaiman bangunanmu akan sempurna?
Jika kamu membangun sedangkan orang lain menghancurkannya?[8]


[1] . diantara pengusungnya adalah kelompok sesat Liberal, yang menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai selera majikan mereka(orientalis), sehingga terjaukanlah kaum Muslimin dari Agamannya.
[2] Sebagaimana hadits Nabi Sallallahu alaihi wa Sallam : "Imam Muslim meriwayatkan hadist dalam kitab shahihnya, ﻗﺎﻝ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﺎ ﻛﻨﺎ ﺑﺸﺮ ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺨﻴﺮ ﻓﻨﺤﻦ ﻓﻴﻪ ﻓﻬﻞ ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺀ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺷﺮ ﻗﺎﻝ ﻧﻌﻢ. ﻗﻠﺖ ﻫﻞ ﻭﺭﺍﺀ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺸﺮ ﺧﻴﺮ ﻗﺎﻝ » ﻧﻌﻢ .« ﻗﻠﺖ ﻓﻬﻞ ﻭﺭﺍﺀ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺷﺮ ﻗﺎﻝ » ﻧﻌﻢ .« ﻗﻠﺖ ﻛﻴﻒ ﻗﺎﻝ » ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪﻯ ﺃﺋﻤﺔ ﻻ ﻳﻬﺘﺪﻭﻥ ﺑﻬﺪﺍﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻨﻮﻥ ﺑﺴﻨﺘﻰ ﻭﺳﻴﻘﻮﻡ ﻓﻴﻬﻢ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻓﻲ ﺟﺜﻤﺎﻥ ﺇﻧﺲ .« ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻛﻴﻒ ﺃﺻﻨﻊ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﺩﺭﻛﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻝ » ﺗﺴﻤﻊ ﻭﺗﻄﻴﻊ ﻟﻸﻣﻴﺮ ﻭﺇﻥ ﺿﺮﺏ ﻇﻬﺮﻙ ﻭﺃﺧﺬ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﺎﺳﻤﻊ ﻭﺃﻃﻊ « ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ “Hudzaifah bin Yaman radhiallahu ‘anhu berkata,

“Aku berkata,”Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejelekkan lalu Allah mendatangkan kebaikan maka kami berada di dalamnya.

Apakah di belakang kebaikan ini terdapat lagi kejelekan ?

Jawab Beliau: “Iya ada”.

Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejelekkan itu ada lagi kebaikan?

Beliau menjawab, “Iya ada”. Aku bertanya lagi, “Apakah setelah setelah kebaikan tersebut ada lagi kejelekkan?

Beliaupun mengiyakan. Aku menimpali, “ Bagaimana bentuknya?” Beliau berkata:

>>“Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku,

tidak menerapkan tuntunanku.

Dan akan muncul orang-orang yang berhati setan dalam rupa manusia. ” <<

Hudzaifah berkata, “Aku bertanya: ”Apa yang harus aku lakukan Wahai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam jika aku menemui masa itu?

Beliau bersabda, “DENGAR dan TAATI penguasa meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Dengar dan taatilah !” (HR. Muslim). Beliau (Imam Muslim) juga meriwayatkan dari Salamah bin Yazid Al-Ju ’fy, bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:

“Ya Nabi Allah!
Bagaimana pendapatmu jika berkuasa atas kami pemimpin-pemimpin yang menuntut hak mereka dan merampas hak kami?

Apa perintahmu kepada kami ?”

Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengelak dari menjawabnya, sampai tiga kali ia bertanya. Maka ia ditarik oleh Asy ’ats bin Qois. Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, « ﺍﺳﻤﻌﻮﺍ ﻭﺃﻃﻴﻌﻮﺍ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﺎ ﺣﻤﻠﻮﺍ ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺣﻤﻠﺘﻢ « ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

“Dengar dan patuhi, sesungguhnya mereka bertanggung jawab atas apa yang dibebankan kepada mereka.

Dan kamu bertanggung jawab ata apa yang dibebankan kepadamu ”. (HR. Muslim).

[3] Sebagaimana yang terjadi di zaman kita sekarang, kekacauan dimana-mana sejak tertiupnya terompet demokrasi yang mengusung kebebasan bersuara bagi sesiapa saja(orang kafir, munafiqin, ahlul bid’ah dan kelompok sempalan dalam Islam) semua orang bebas bicara apa saja termasuk Agama yang bukan wilayah mereka.
[4] Termasuk para Da’i-dai yang di atas manhaj Salaf as-Sholeh.
[5] Inilah yang dilakukan kelompok liberal,syi’ah beserta konco-konconya.
[6] dengan sedikit tambahan dari penulis
[7] Inilah yang sedang kita alami dizaman kita sekarang.
[8] Disadur dari buku Potret Kehidupan para Salaf karya Dr. Musthafa Abdul Wahid dengan sedikit penambahan. Pustaka at-Tibyan
by Abu Muhammad
Share on Google Plus

About abu muhammad

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment