Ketentraman Hati Karena Mengingat Allah

الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْ بُهُمْ بِذِ كْرِاللهِ أَلاَ بِذِ كِرِاللهِ تَطْمَئِنَّ قُلـو بُ {الرعد:28}

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. .(QS. Ar-Ra'd: 28)

ath-Thuma’niinah ialah ketentraman hati kepada sesuatu dan tidak terguncang atau resah karenanya. 

Disebutkan dalam sebuah atsar yang sudah masyhur, “kejujuran adalah ketentraman dan dusta adalah keragu-raguan.” Dengan kata lain, hati yang mendengar menjadi tentram dan tenang karena kejujuran, sedangkan kedustaan pasti mendatangkan kerisauan dan keragu-raguan. 

Makna ini pula yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallhu Alahi wa Sallam,
الْبِرُّ مَا اطْمَأَ نَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ.
“Kebajikan ialah yang membuat hati menjadi tentram kepadanya.”

Tentang makna dzikrulloh disini ada dua pendapat:

Pertama: Artinya adalah hamba yang menginggat Rabb-nya. Hatinya menjadi tentram dan tenang karenanya. Jika hatinya gundah dan resah, tidak ada yang bisa membuatnya tenang dan tentram kecuali menginggat Allah. 

Orang-orang yang menyatakan makna ini juga saling berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang berpendapat, hal ini berlaku untuk sumpah dan janji. Apabila orang mukmin bersumpah tentang sesuatu, maka hati orang-orang Mukmin menjadi tenang dan tentram karenanya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Diantara yang lain berpendapat, maknanya adalah hamba yang menginggat Rabb-nya, ingatan ini hadir antara dirinya dan Allah , sehingga hatinya menjadi tenang dan tentram. 

Kedua: Yang dimaksud dzikrullah disini ialah Al Qur’an, yang diturunkan kepada Rasul-Nya, yang dengan Al Qur’an ini hati orang-orang mukmin menjadi tentram. Hati tidak menjadi tentram kecuali dengan iman dan keyakinan. Sementara tidak ada cara untuk mendapatkan iman dan keyakinan kecuali dari Al Qur’an. Ketenangan dan ketentraman hati berasal dari keyakinan terhadap Al Qur’an, sedangkan keresahan dan kegelisahan hati karena meragukan Al Qur’an. Dan Al Qur’anlah yang menghasilkan keyakinan dan menyingkirkan keragu-raguan. Jadi hati orang-orang Mukmin tidak tentram kecuali dengan Al Qur’an. Pendapat ini bisa diterima dan menjadi pilihan.

Begitu pula Firman-Nya, 

“Barangsiapa berpaling dari pengajaran Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”.(Az- Zukhruf:36). Yang benar dzikrullah adalah apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yaitu kitab-Nya. Karena itu Allah  berfirman tentang orang yang berpaling darinya.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghidupkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, “Ya Rabbi, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta? Padahal aku dahulunya adalah seorang yang dapat melihat?.Allah berfirman ‘Demikianlah, telah dating kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan’.”(Thaha:124-126)

Adapun orang yang menakwilinya dengan sumpah, maka itu sangat jauh dari maksudnya. Sebab dzikrullah, menyebut Allah dalam sumpah bisa dilakukan pendusta dan jujur, baik dan buruk. Orang-orang Mukmin menjadi tentram hatinya terhadap orang yang jujur, meskipun dia tidak bersumpah, dan hati mereka tidak tentram terhadap orang yang ragu-ragu, meskipun dia bersumpah.

Allah menjadikan tentram didalam hati orang-orang Mukmin dan jiwa mereka, menjadikan kegembiraan, kesenangan, pujian dan berita gembira akan masuk surgas bagi orang-orang yang hatinya tentram.Maka keberuntungan yang besar bagi mereka.

1) Madaarij As-Saalikiin, 2/283/tafsir Ibnu Al-Qayyim.

Oleh Abu Muhammad

Share on Google Plus

About abu muhammad

Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka jika kami mencari kemuliaan dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kami [Umar bn Khattab].
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah” (HR Bukhari, Muslim)